.::PERHIMPUNAN REUMATOLOGI INDONESIA::.

Detail Ilmiah Informasi tentang Perhimpunan Reumatologi Indonesia

Perbedaan pengapuran dengan pengeroposan tulang

Perbedaan Pengapuran Dengan Pengeroposan Tulang

dr. I Nyoman Suarjana, SpPD

 

            Dikalangan masyarakat sudah cukup populer istilah penyakit pengapuran sendi, walaupun sebagian dari mereka mempunyai pemahaman yang keliru karena menganggap penyakit tersebut terjadi karena kekurangan zat kapur. Penyakit pengapuran sendi yang istilah medisnya adalah osteoartritis, juga sering dikelirukan dengan pengeroposan tulang atau osteoporosis, dimana kedua penyakit ini mempunyai gejala dan pengobatan yang sangat berbeda. Oleh masyarakat awam, kondisi pengapuran sendi sering dianggap sama dengan pengeroposan tulang, karena kedua penyakit itu memiliki kemiripan, yakni kedua penyakit itu kerap menyerang orang yang berusia lanjut. Padahal kedua penyakit ini, sangatlah berbeda.

Secara umum, perbedaan penyakit pengapuran sendi dan pengeroposan tulang terletak pada bagian tubuh yang diserang. Penyakit pengapuran sebagian besar terjadi karena proses penuaan (degeneratif) yang menyerang persendian tubuh terutama sendi-sendi penyangga berat badan seperti lutut, panggul dan pergelangan kaki, sedangkan pengeroposan menyerang tulang-tulang dalam tubuh terutama tulang belakang dan pinggul yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

 

Apa itu Pengapuran Sendi?

 

     Sendi normal

     Osteoartritis

 

 

Pengapuran sendi atau osteoartritis adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya pengikisan/penipisan pada tulang rawan sendi sehingga bantalan sendi makin lama makin menipis yang akhirnya akan hilang atau gundul, sehingga sendi akan nyeri bila digerakkan. Tubuh manusia terdiri atas 206 tulang dan 230 sendi. Pengapuran bisa terjadi hampir pada semua sendi. Biasanya terjadi pada sendi yang biasa menahan beban berat dan juga pada sendi yang sering digunakan, misalnya lutut, pinggul, punggung atau tulang belakang, tangan, dan kaki. Sendi lutut merupakan sendi dengan beban kerja yang cukup berat. Saat berdiri tegak, sendi itu dalam posisi mengunci agar posisi tubuh stabil. Sedangkan saat berjalan, sendi ini berperan layaknya engsel, sehingga gerakan kaki menjadi fleksibel.

Dalam sendi lutut, terdapat tiga komponen tulang yaitu ujung tulang paha (femur), tulang tungkai bawah (tibia) dan tulang lutut (patella). Pada bagian ujung dari tulang, terdapat komponen yang disebut dengan tulang rawan. Tulang rawan berperan melapisi ujung tulang di persendian. Dengan adanya tulang rawan, ketiga tulang tersebut bertemu, namun tidak terjadi gesekan, dan gerakan sendi menjadi mulus.

Sesuai perjalanan usia, pada orang tua akan terjadi kerusakan pada tulang rawan sendi. Selain faktor usia, ada juga faktor lain yang dapat mempercepat proses kerusakan. Misalnya infeksi, trauma, aktifitas yang tinggi atau berat badan berlebih. Jika terjadi kerusakan, maka tulang rawan menjadi tipis dan permukaannya tidak rata, akibatnya terjadi gesekan antara tulang dengan tulang sehingga menimbulkan nyeri.

Kerusakan pada tulang rawan mengakibatkan gerakan sendi tidak lagi mulus. Ujung-ujung tulang bertemu dan bergesekan satu sama lain. Kerusakan tulang rawan merangsang pertumbuhan tulang baru di dalam sendi yang dikenal dengan osteofit. Dengan adanya osteofit, nyeri bertambah parah, dan tentu saja aktifitas terganggu. Untuk menentukan ada tidaknya pengapuran pada sendi, selain melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang,misalnya saja melakukan foto rontgen. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kondisi dan memperkirakan derajat kerusakan sendi.

Pengobatan untuk mengatasi pengapuran sendi, tergantung kepada derajat nyeri atau kerusakan sendi. Pada nyeri yang ringan mungkin cukup diberi obat-obat penghilang rasa nyeri yang ringan seperti parasetamol, bila nyerinya berat dan terjadi komplikasi lain seperti penimbunan cairan radang pada rongga sendi maka harus segera ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

 

Apa itu Pengeroposan Tulang?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan osteoporosis sebagai penyakit tulang keropos, karena pada sebagian besar penderita osteoporosis, massa tulangnya berkurang atau mengalami penyusutan. Hal ini terjadi karena persediaan kalsium didalam tulang berkurang sehingga menyebabkan tubuh mengambil kalsium dari tulang dan lama kelamaan tulang menjadi keropos, sehingga tulang menjadi tidak kuat menahan beban berat. Bahkan, benturan ringan sekalipun dapat menyebabkan patah tulang.                                    

Penderita osteoporosis masih dapat melakukan aktivitas fisik, meski dengan beban yang terkontrol alias tidak terlalu berat. Mereka yang mengidap penyakit ini dapat melakukan senam khusus osteoporosis yang bertujuan untuk membiasakan tulang tubuh menahan beban dan penguatan  otot.

Selain olahraga ringan, juga dianjurkan untuk mengonsumsi vitamin yang cukup. Asupan vitamin yang diperlukan bagi penderita osteoporosis, antara lain vitamin D, C, B6, B12, dan folat. Sementara mineral yang dibutuhkan antara lain magnesium dan kalsium

 

Perbedaan antara pengapuran sendi (osteoartritis) dengan pengeroposan tulang (osteoporosis) :

  • Osteoporosis kelainannya terjadi pada tulang terutama tulang belakang dan panggul, sedangkan osteoartritis kelainannya terjadi pada persendian terutama persendian penyangga berat badan seperti lutut dan pergelangan kaki.
  • Penderita osteoporosis memerlukan asupan kalsium yang memadai, baik dengan susu berkalsium atau suplemen kalsium, sedangkan pada osteoartritis tidak ada hubungan langsung dengan kebutuhan kalsium, yang diperlukan adalah obat-obat untuk menghilangkan sakit dan vitamin-vitamin untuk sendi misalnya glukosamin.
  • Osteoporosis tidak menimbulkan rasa nyeri pada tulang kecuali sudah terjadi patah tulang, sedangkan penderita osteoartritis akan selalu merasakan nyeri pada sendi saat melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Untuk mengetahui derajat kekroposan tulang dapat dilakukan dengan pemeriksaan yang disebut densitometri tulang atau BMD sedangkan untuk pengapuran sendi dilakukan dengan pemeriksaan rontgen sendi.